Rabu, 31 Juli 2019

Tugas 3 Manajemen Kelas di SD


TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang
Manajemen Kelas
                             
Oleh :
Bestary Nabilla
1520105

Dosen Pengampu :
Yessi Rifmasari, M.Pd

Kelas : VII.4 PGSD

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2019








MANAJEMEN KELAS

A.    Konsep Manajemen Kelas
Manajemen berasal dari kata dalam Bahasa Inggris: “management”, dengan kata kerja to manage yang secara umum berarti mengurusi mengemudikan, mengelola, menjalankan, membina, atau memimpin; kata benda managemen dan manage berarti orang yang melakukan kegiatan manajemen. Dua kata tersebut digabung menjadi kata kerja managere yang artinya menangani. Kata “managere” diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja “to manage”, dengan kata benda management dan manage untuk orang yang melakukan manajement.
Menurut wiyarni (2013) menyatakan bahwa manajemen adalah proses dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan serta pengawasan terhadap anggota organisasi dan penggunaan semua sumber daya yang dimiliki organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut nawawi dalam karwati (2014: 5-6) menyebutkan bahwa kelas dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu :
1.      Kelas dalam arti sempit.
            Kelas dalam prespektif sempit adalah ruangan yang dibatasi oleh dinding, tempat sejumlah peserta didik berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan peserta didik mnurut tingkat perkembangan
2.      Kelas dalam arti luas
            Kelas dalam perspektif luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah. Kelas merupakan satu kesatuan oragisasi yang menjadi unit kerja, yang secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
Jadi, dapa disimpulkan definisi dari manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan atau dapat dikatakan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses pembelajaran secara sistematis.
                
B.     Tujuan Manajemen Kelas
Tujuan dari manajemen kelas itu sendiri menurut Rusydie (Wiyani, 2013:61) mengemukakan tujuan dari manajemen kelas yaitu :
1.   Memudahkan kegiatan belajar  peserta didik,
2.   Mengatasi hambatan-hambatan yang menghalangi terwujudnya interaksi dalamkegiatan belajar mengajar,
3.   Mengatur berbagai penggunaan fasilitas  belajar,
4.   Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan berbagai latar  belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya,
5.  Membantu peserta didik belajar dan bekerja sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya,
6.  Menciptakan suasana sosial yang baik di dalam kelas. 
Dengan itu dalam pengelolaan kelas guru sebaiknya dapat mencipta kondisi kelompok belajar yang terdiri dari kelompok belajar yang heterogen sehingga lingkungan kelas yang nyaman dan tidak ada perbedaan siswa dengan yang lainnya, sehingga siswa dapat  berbuat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, serta tersedia kesempatan yang memungkinkan untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan dengan guru, sehingga siswa mampu melakukan aktivitas sendiri tanpa tergantung dengan orang lain secara bertahap.
Dalam tercapainya tujuan menejemen kelas guru harus bisa kreatif dan inovatif dalam mengelola kelas, karena jika dalam kelas sudah tersusun dengan bersih dan rapi maka siswa akan betah di dalam kelas dan guru saat menyampaikan materi pada PBM siswa merasa tenang dan nyaman dan kelas menjadi kondusif.
C.    Proses Manajemen Kelas
Proses manajemen kelas adalah penyusunan rangkaian kegiatan yang dilakukan guru sebagai manajer/pemimpin pembelajaran di kelas adalah :
1.      Merencanakan Pembelajaran
Berkenaan dengan perencanaan, William H. Newman (Abdul Majid, 2011:15-16) menyatakan, “perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari”.
Dalam kontek perencanaan  pembelajaran, adalah berkaitan dengan penyusunan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan belajar siswa yang dilakukan guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan siswa supaya mau mengikuti belajar.  Fungsi guru dalam merencanakan pembelajaran  berorientasi karakteristik siswa yang dapat dilakukan adalah untuk membangkitkan motivasi belajar siswa secara aktif.
2.      Melaksanakan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan realiasi kegiatan yang telah direncanakan atau dipersiapkan sebelumnya. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembelajaran faktor guru sangat dominan berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Tugas dan tanggung jawab guru dalam pelaksanaan pembelajaran meliputi :    kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup pada pembelajaran berlangsung.
3.      Mengevaluasi Pembelajaran
Evaluasi merupakan salah satu komponen penting untuk mengukur keberhasilan kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai darpada sesuatu. Berdasarka pengertian ini, evaluasi pembelajaran adalah suatu tindakan untuk menentukan nilai hasil belajar siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
D.    Strategi Manajemen Kelas
Strategi pengelolaan kelas adalah pola atau siasat, yang menggambarkan  langkah-langkah yang digunakan guru dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas agar tetap kondusif, sehingga siswa dapat belajar optimal, aktif, dan  menyenangkan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Supardi (2013:217), suasana sekolah dinyatakan kondusif apabila warga sekolah merasakan adanya kenyamanan, ketentraman, kemesraan, kegembiraan dan antusias dalam pelaksanaan pembelajaran. Sekolah memastikan sarana prasarana seperti kursi, meja, lemari yang terdapat di sekolah adalah sesuai dengan kebutuhan. Bangunan sekolah dan ruangan kelas yang dilengkapi ventilasi udara yang baik dan dilengkapi penerangan yang mencukupi dan suasana yang sunyi sehingga peserta didik merasa nyaman ketika pembelajaran berlangsung di kelas.
Jadi, kelas yang kondusif adalah suatu kondisi pembelajaran dimana terciptanya suasana yang nyaman, aman, menyenangkan dalam kelas sehingga menciptakan  kesadaran siswa untuk belajar.
Menurut Ramsden (1992),  mengenal enam prinsip utama pengajaran berkesan yaitu yang dapat menghasilkan suasana pembelajaran kondusif.
1.      Minat dan penjelasan
Penjelasan yang jelas tentang isi kandungan (subject matter) tidak lebih penting dariupaya menjadikan isi kandungan menarik sehingga siswa merasa tertarikmempelajarinya.
2.      Keprihatinan dan hormat terhadap siswa dan pembelajaran siswa
Guru memberikan perhatian dan menghormati siswa serta pembelajaran mereka.
3.      Penilaian dan umpan balik yang sesuai
Guru memberikan umpan balik terhadap kerja siswa.
4.      Tujuan yang jelas dan tantangan intelektual
Tujuan dari pembelajaran sebelum kegiatan belajar dimulai harus dijelaskan terlebihdahulu sehingga siswa memahami tujuan dari kegiatan tersebut.
5.      Kebebasan, pendampingan, dan penglibatan aktif
Pembelajaran berkualitas tinggi bermakna siswa terlibat secara aktif, mempunyai pilihan terhadap cara mereka belajar dan mempunyai pendampingan terhadap aspek yang dipelajari.









DAFTAR PUSTAKA

Karwati, Euis dan Priansa, Donni Juni. 2014. Manajemen Kelas Classroom    
      Management Guru Profesional yang Inspiratif, Kreatif, Menyenangkan,    dan  Berprestasi.  Bandung: Alfabeta
Milan, Rianto. 2007. Pengelolaan kelas model PAKEM. Jakarta: Dirjen                    PMPTK
Mulyadi, 2009. Classroom Management. Malang: UIN Malang Press
Novan Ardy Wiyani, 2013 Manajemen Kelas. Jokjakarta : Ar-Ruzz Media
Novan Ardy Wiyani. 2012. Manajemen Kelas: Teori dan Aplikasi untuk          Menciptakan Kelas yang Kondusif. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media
Suwardi. 2007. Manajemen Pembelajaran. Surabaya: Media Grafika




Selasa, 30 Juli 2019

Tugas 2 Manajemen Kelas di SD

TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang

Manajemen Pembelajaran


Oleh :
Bestary Nabilla
1520105

Dosen Pengampu :
Yessi Rifmasari, M.Pd

Kelas : VII.4 PGSD

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2019

MANAJEMEN PEMBELAJARAN
A.    Konsep Manajemaen Pembelajaran
Manajemen merupakan proses yang khas bertujuan untuk mencapai suatu tujuan dengan efektif dan efisien menggunakan semua sumber daya yang ada. Terry menjelaskan: “Management is performance of coneiving desired result by means of grouuf efforts consisting of utilizing human talent and resources”. Ini dapat dipahami bahwa manajemen adalah kemampuan mengarahkan dan mencapai hasil yang diinginkan dengan pemberdayaan manusia dan sumber daya lainnya.   
Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai suatu rangkaian aktifitas (termasuk perencanaan, dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian) yang diarahkan pada sumber- sumber daya organisasi (manusia, finansial, fisik, dan informasi) dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Pengertian Manajemen dikemukakan Parker (Stoner & Freeman, 2000) : Ialah Seni melaksanakan pekerjaan melalui orang- orang (the art of getting things done through people). Sufyarma mengutip dari Stoner mengatakan : Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Dalam teori Manajemen Islam seseorang yang melakukan kebaikan akan diberi ganjaran didunia dan akhirat. Ganjaran di dunia ini termasuk keuntungan material, dan pengakuan sosial, dan kesejahteraan psikologis dan di hari kemudian berupa kesenangan dan kemakmuran dari Allah. Seseorang juga akan diberi pahala atas niat yang baik.
Dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif artinya bahwa tujuan dapat dicapai sesuai perencanaan, sementara efisien berarti tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.  
B.     Tujuan Manajemen Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan). Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa.
Nana Syaodih Sukmadinata mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu:
1.      Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri
2.      Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar
3.      Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran
4.      Memudahkan guru mengadakan penilaian.
Tujuan pembelajaran bisa melalui pendekatan masalah khusus dalam pembelajaran, mengandung arti sebagai pengetahuan dan pengertian berdasarkan informasi yang diterima. Pendekatan ini lebih mempertimbangkan apa yang harus dipelajari tentang materi tersebut. Bahwa pendekatan ini akan menciptakan pembelajaran yang spesifik sesuai dengan bidangnya.
C.    Kebijakan Tentang Menajemen Pembelajaran
Manajemen pembelajaran merupakan elemen dari manajemen sekolah sedangkan manajemen sekolah merupakan bagian dari manajemen pendidikan, atau penerapan manajemen pendidikan dalam organisasi sekolah sebagai salah satu komponen dari sistem pendidikan yang berlaku.
            Keberhasilan sebuah usaha maka manajemen haruslah dilaksanakan berdasarkan dalil-dalil umum manajemen atau yang lebih dikenal sebagai prinsip-prinsip manajemen. Dari sekian banyak prinsip manajemen yang dapat diajarkan dan dipelajari oleh seorang calon manajer, diantaranya yang terpenting adalah:
1.      Prinsip Pembagian Kerja
            Dalam membagi-bagikan tugas dan jenisnya kepada semua kerabat kerja, seorang manajer hendaknya bersifat adil, yaitu harus bersikap sama baik dan memberikan beban kerja yang berimbang.
2.      Prinsip wewenang dan tanggung jawab
            Setiap kerabat kerja atau karyawan hendaknya diberi wewenang sepenuhnya untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan mempertanggung jawabkannya kepada atasan secara langsung.
3.      Prinsip Tertip dan Disiplin
            Disiplin adalah kesedian untuk melakukan usaha atau kegiatan nyata (bekerja sesuai dengan jenis pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya) berdasarkan rencana, peraturan dan waktu (waktu kerja) yang telah ditetapkan.
4.      Prinsip Kesatuan Komando dan Semangat Kesatuan
            Setiap karyawan atau kerabat kerja hendaknya hanya menerima satu jenis perintah dari seorang atasan langsung (mandor/kepala seksi/kepala bagian), bukan dari beberapa orang yang sama-sama merasa menjadi atasan para karyawan/kerabat kerja tersebut.
5.      Prinsip Keadilan dan Kejujuran.
            Kegiatan hendaknya mempunyai tujuan yang sama dan dipimpin oleh seorang atasan langsung serta didasarkan pada rencana kerja yang sama (satu tujuan, satu rencana, dan satu pimpinan).
D.    Peran Guru Dalam Manajeman Kelas
            Guru memiliki peran sebagai salah satu unsur pengelola pendidikan pada suatu lembaga pendidikan yang terlihat langsung dalam mentransfer pengetahuan kepada siswa, harus mampu mengelola kelasnya, merumuskan tujuan pembelajaran secara opersional, menentukan materi pembelajaran,  menetapkan metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar dan kemampuan profesional guru lainnya, agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Peran dan fungsi guru
berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah. Di antara peran dan fungsi guru tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Guru sebagai pendidik
      Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memilki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.
2.       Guru sebagai Pengajar
      Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhin oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru,kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam ber komunukasi. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam memecahkan masalah.
3.        Guru sebagai Pembimbing
       Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamanya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
4.       Guru sebagai Pelatih
          Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih.
4.       Guru sebagai Penaseha
          Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memilki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agarguru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.
6.       Guru sebagai Pembaharu (Inovator)
   Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua memilki arti lebih banyak dari pada nenek kita. Seorang peserta didik yang belajar  sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan.
7.      Guru sebagai Model dan Teladan
           Guru merupakan model atau teladan bagi peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untu ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teldan. Tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru: sikap dasar, bicara dan gaya bicara, kebiasaan bekerja, sikap melalui pengalaman dan kesalahan, pakaian, hubungan kemanusiaan, proses berfikir, perilaku neurotis, selera, keputusan, kesehatan gaya hidup secara umum.
8.        Guru sebagai Pribadi
          Guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Jika ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka dengan cara yang tepat disikapi sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dan masyarakat yang berakibat tergangunya proses pendidikan bagi peserta didik. Guru perlu juga memilki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melaluin kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olahraga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimilki, sebab kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yangbersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat.
9.       Guru sebagai Pendorong Kreatifitas
           Kreatifitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mende akan monstrasikan dan menunjukkan kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan ciri aspek dunia disekitar kita. Kreatifitas ditandai olehadanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderunganuntuk menciptakan sesuatu. guru senantiasa berusaha untu menemukancara yang lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan menilainya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreatifitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya.
10.  Guru sebagai pembangkit pandang
             Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan tentang keagungan kepada peserta didiknya. Mengembangkan fungsi ini guru harusterampil dalam berkomunikasi dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.
11.    Guru sebagai Pekerja Rutin
          Guru bekerja dengan ketrampilan dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat diperlukan dan seringkali memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak \ dikerjakan dengan baik, maka bisa mengurangi ataumerusak keefektifan guru pada semua peranannya.
12.   Guru sebagai Evaluator
     Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta varible lain yang mempunyai arti apabila berhubungan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindaklanjut serta penilaian harus adil dan objektif
E.     Kode Etik Guru 
                        Adapun kode etik guru  antara lain sebagai berikut:
1.      Guru berbakti membimbing peserta didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan dan berjiwa Pancasila.
2.      Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing. 
3.      Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4.      Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan peserta didik. 
5.      Guru memelihara hubungan dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan.
6.      Guru secara pribadi dan bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
7.      Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan maupun di dalam hubungan keseluruhan.
8.      Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdiannya.
9.      Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan. 


DAFTAR RUJUKAN

Husaini usman. 2011. Manajemen, Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan, edisi 3. Jakarta : BumiAksar
Made Pidarta. 2004.  Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta h.74  Ibid., h.78
Sufyarma. 2004. Kapita Selekta Manajemen Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta hlm.188- 189.
Syafaruddin. 2005. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press h.41
Ricky W. Griffin. 2004. Manajemen. Jakarta : Erlangga.

Tugas 1 Manajemen Kelas di SD


TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang
Belajar dan Mengajar

                                                                                                     Oleh :
Bestary Nabilla
1520105

Dosen Pengampu :
Yessi Rifmasari, M.Pd

Kelas : VII.4 PGSD
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2019

A.    Belajar dan Mengajar
1.      Konsep Belajar
Robert. M. Gagne dalam bukunya : The Conditioning of learning mengemukakan bahwa : Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth ; Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.
Gagne (1973) berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi. Dalam teori psikologi konsep belajar Gagne ini dinamakan perpaduan antara aliran behaviorisme dan aliran instrumentalisme.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar itu sangat penting karna melalui dengan belajar dapat memperluas kemampuan kita. Salah satunya bukan hanya mengenal dari pertumbuhan saja tapi secara keseluruhannya, seperti : menggunakan psikologi dan juga interaksi sesama manusia.
2.       Konsep Mengajar
Menurut Dr. A. H. Sequeira (2012) mengajar adalah serangkaian acara, di luar peserta didik yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran internal. Mengajar (instruksi) berada di luar pelajar. Belajar adalah internal bagi peserta didik. Belajar adalah motif dan perilaku tetapi hanya perilaku yang terlihat, pembelajaran adalah internal, kinerja adalah eksternal.
Secara umum, peran gurudapat dikategorikan menjadi:
a.       Peran Tradisional – Berpusat pada Guru
b.      Peran Modern – Fasilitator (Student Centered)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa  mengajar adalah serangkaian kegiatan, diluar peserta didik yang mendukung proses pembelajaran
B.     Prinsip Belajar dan Mengajar
1.      Prinsip Belajar
Menurut Gestalt adalah suatu transfer belajar antara pendidik dan peserta didik sehingga mengalami perkembangan dari proses interaksi belajar mengajar yang dilakukan secara terus menerus dan diharapkan peserta didik akan mampu menghadapi permasalahan dengan sendirinya melalui teori-teori dan pengalaman-pengalaman yang sudah diterimanya.
Menurut Robert H Davies adalah suatu komunikasi terbuka antara pendidik dengan peserta didik sehingga siswa termotivasi belajar yang bermanfaat bagi dirinya melalui contoh-contoh dan kegiatan praktek yang diberikan pendidik lewat metode yang menyenangkan siswa.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar Proses Belajar dan Pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik.
2.      Prinsip Mengajar
Menurut Marsell, James L (1954 : 69-119) mengemukakan 6 prinsip mengajar yaitu:
a.       Prinsip konteks
b.      Prinsip fokus
c.       Prinsip urutan
d.      Prinsip evaluasi
e.       Prinsip individualisasi
f.       Prinsip sosialisasi
a.       Prinsip Konteks
Mengajar dengan memperhatikan prinsip ini, guru dalam menyajikan pelajaran hendaknya dapat menciptakan bermacam-macam hubungan dalam kaitan bahan pelajaran. Menghubungkan bahan pelajaran dapat menggunakan bermacam-macam sumber, misalnya surat kabar, majalah atau buku perpustakaan atau lingkungan sekitar.

b.      Prinsip Fokus
Mengajar dengan memperhatikan prinsip fokus, yaitu guru dalam membahas pokok bahasan tertentu perlu menentukan pokok persoalan yang menjadi pusat pcmbahasan. Bila prinsip konteks mengharuskan guru menghubungkan bahan pengajaran seluas-luasnya, maka prinsip fokus mengharuskan adanya pemusatan pokok persoalan.
c. Prinsip urutan
Mengajar dengan melaksanakan prinsip urutan adalah materi pengajaran hendaknya disusun secara logis dan sistematis, sehingga mudah dipelajari anak. Misalnya: guru mengajar matematika dengan pokok bahasan fungsi grafik tentu ia akan merinci kegiatan apa yang harus dikuasai siswa, untuk memahami dengan mudah permasalahan fungsi grafik. Untuk memahami prinsip tersebut, guru perlu merinci kegiatan-kegiatan mana yang lebih dahulu dan mana yang kemudian. Penyusunan kegiatan-kegiatan tersebut harus sistematis dan logis.
d.      Prinsip evaluasi
Prinsip ini menekankan bahwa guru dalam mengajar tidak boleh meninggalkan kegiatan evaluasi. Evaluasi merupakan kegiatan integral dalam mengajar. Kegiatan evaluasi berfungsi mempertinggi efektivitas belajar, menimbulkan dorongan siswa untuk lebih meningkatkan belajarnya da.n memungkinkan guru untuk memperbaiki metode mengajarnya. Evaluasi ini dapat dilakukan baik secara tertulis maupun lisan dalam bentuk “assasment”.
e.       Prinsip individualisasi
Melaksanakan prinsip individualisasi diwujudkan dalam bentuk mengajar hendaknya memperhatikan perbedaan antar individu siswa. Siswa sebagai makhluk individu berbeda-beda, baik dari segi mental, misalnya perbedaan intelegensi, bakat, minat dan sebagainya maupun berbeda dalam kecenderungan, misalnya ada yang cenderung lebih baik pada bidang estetika, tetapi kurang baik pada matematika. dan sebagainya. Perbedaan individu tersebut dapat dilakukan dalam pemberian pelayanan belajar, seperti bimbingan belajar, tugas-tugas, dan sebagainya.
f.       Prinsip sosialisasi
Prinsip ini menekankan bahwa guru dalam mengajar hendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang menimbulkan sikap saling kerjasama antara siswa., dalam mengatasi masalah. Cara belajar seperti itu memiliki dua keuntungan yang dapat diperoleh yaitu:
1)      Dapat membina dan mengembangkan kepribadian siswa terutama sikap demokrasi.
2)      Pengetahuan anak akan bertambah kokoh sebab di dalam proses belajar di antara siswa terjadi saling  memberi dan menerima.
Jadi, dapat disimpulkan keenam prinsip harus dilaksanakan secara integral. Prinsip konteks, urutan, dan evaluasi  merupakan prinsip-prinsip yang digali dari bagaimana cara menyusun dan menyajikan bahan kepada siswa, sedangkan prinsip individualisasi dan sosiolisasi mendasarkan pada pemenuhan kebutuhan yang belajar.

C.    Keterampilan – Keterampilan Mengajar
Menurut Turney (Uzer Usman, 2010:74) mengemukakan ada 8 (delapan) keterampilan mengajar/membelajarkan yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran, diantaranya:
1.      Keterampilan Bertanya
Dalam proses belajar mengajar, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap siswa, yaitu:
a.       Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar-mengajar
b.      Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadai atau dibicarakan
c.       Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa sebab berfikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya
d.      Menuntun proses berfikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik
e.       Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.
2.      Keterampilan Mempeberikan Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
3.      Keterampilan Mengadakan Variasi
Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi.
4.      Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan.
5.      Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Usaha menutup pelajaran itu dimaksudkan untuk memberi gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar-mengajar.
Komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasai siswa. Komponen keterampilan menutup pelajaran meliputi: meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, dan mengevaluasi.
6.      Keterampilam Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya keterampilan berbahasa.
Komponen-komponen keterampilan membimbing diskusi, yaitu :
a.       memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topic diskusi
b.      memperluas masalah atau urutan pendapat
c.       menganalisis pandangan siswa
d.      meningkatkan urunan pikir siswa
e.       menyebarkan kesempatan berpartisipasi
f.       menutup diskusi
7.      Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar, misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas maka perlu diperhatikan komponen-komponen  keterampilan, antara lain:
a.       Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif). Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal seperti keterampilan menunjukkan sikap tanggap, member perhatian, memusatkan perhatian, memusatkan perhatian kelompok, memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas, menegur dan member penguatan.
b.      Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini  berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan respon yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepada kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua siswa.
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai berikut: (1) campur tangan yang berlebihan (teachers instruction). (2).  kesenyapan (fade away) (3). ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stop and stars) (4).  penyimpangan (digression) (5). bertele-tele (overdwelling)

8.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3- 8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa maupun antara siswa dengan siswa.
Komponen keterampilan yang digunakan adalah: keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, keterampilan mengorganisasi, keterampilan membimbing dan memudahkan belajar dan keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
D.    Tujuan Keterampilan Mengajar
1.      Tujuan untuk siswa
Keterampilan mengelola kelas bagi siswa mempunyai tujuan untuk:  (a) mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya.  (b) membantu siswa agar mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan.  (c) menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas.
2.      Tujuan untuk Guru
Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah untuk melatih keterampilannya dalam : (a) mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah proses belajar mengajar secara efektif. (b) memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensinya dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa.  (c) memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi dan yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang berlebihan atau terus menerus melawan di kelas.
                  Jadi, dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengajar merupakan perubahan tingkah laku siswa dalam agar agar siswa dapat mengembangkan dan menerapkan pembelajaran di sekolah dalam kehidupannya.  
E.     Macam-Macam Keterampilan Mengajar
Pada garis besarnya keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian  yaitu;
1)      Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
a.    Menunjukan sikap tanggap,
Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. 
b.    Membagi perhatian, 
Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru.  Perhatian guru tidak hanya terpokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merat kepada setiap anak yang ada di dalam kelas.
c.     Memusatkan perhatian kelompok,
Munculnya kelompok informal di kelas, atau pengelompokan karena di sengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan.

d.    Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas,
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan di atas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah emamparkan setiap pelaksanan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
e.    Menegur, 
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa.  Sifat dari teguran tidak merupakan hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya.
f.     Memberi penguatan,
Penguatan adalah  Upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan dan dapat ditularkan kepada siswa lainnya.  Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersipat moril juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan.
2)   Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
a.    Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pemebelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik.
b.     Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagaian dari pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang terapkan oleh guru.  Kelompok juga bias muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan, teman karena gender dan lain-lain.  Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaiant ujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru.
c.     Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karena itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitannya dengan interaksi dan akan diikuti oleh damapak pengiring yang besar bila tidak bias diselesaikan.  Guru harus dapat mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesaian sehingga ada solusi untuk masalah tersebut.









DAFTAR PUSTAKA


Christopher Klooper And Steve Drew.  2015.  Teaching For Learning And Learning   
For Teaching. Australia : Griffith University.
Gagne, Robert M. 1973. The Conditions of Learning and Theory of Instruction. New York: Holt Rinehart and Winston Inc.
Sequeira, A. H. 2012. Introduction to Concepts of Teaching and Learning. India: National Institute of Technology Karnataka.N
Usman, M.Uzer. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.



Tugas 14 Manajemen Kelas di SD

TUGAS MANAJEMEN KELAS DI SD Tentang Membina Hubungan Sekolah dengan Masyarakat dalam Melaksanakan Disiplin Sekolah           ...