TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang
Belajar dan Mengajar
Oleh
:
Bestary
Nabilla
1520105
Dosen Pengampu :
Yessi Rifmasari, M.Pd
Kelas : VII.4 PGSD
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2019
A. Belajar dan Mengajar
1.
Konsep
Belajar
Robert.
M. Gagne dalam bukunya : The Conditioning of learning
mengemukakan bahwa : Learning is a change in human disposition or capacity,
wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process
of growth ; Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia
setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses
pertumbuhan saja.
Gagne
(1973) berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor
dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi. Dalam
teori psikologi konsep belajar Gagne ini dinamakan perpaduan antara aliran
behaviorisme dan aliran instrumentalisme.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar
itu sangat penting karna melalui dengan belajar dapat memperluas kemampuan
kita. Salah satunya bukan hanya mengenal dari pertumbuhan saja tapi secara
keseluruhannya, seperti : menggunakan psikologi dan juga interaksi sesama
manusia.
2.
Konsep Mengajar
Menurut Dr. A. H. Sequeira (2012) mengajar adalah serangkaian acara, di luar
peserta didik yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran internal.
Mengajar (instruksi) berada di luar pelajar. Belajar adalah internal bagi
peserta didik. Belajar adalah motif dan perilaku tetapi hanya perilaku yang
terlihat, pembelajaran adalah internal, kinerja adalah eksternal.
Secara
umum, peran gurudapat dikategorikan menjadi:
a.
Peran
Tradisional – Berpusat pada Guru
b.
Peran
Modern – Fasilitator (Student Centered)
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah
serangkaian kegiatan, diluar peserta didik yang mendukung proses pembelajaran
B. Prinsip Belajar dan Mengajar
1.
Prinsip
Belajar
Menurut Gestalt adalah suatu transfer belajar antara pendidik dan
peserta didik sehingga mengalami perkembangan dari proses interaksi belajar
mengajar yang dilakukan secara terus menerus dan diharapkan peserta didik akan
mampu menghadapi permasalahan dengan sendirinya melalui teori-teori dan
pengalaman-pengalaman yang sudah diterimanya.
Menurut Robert H Davies adalah suatu
komunikasi terbuka antara pendidik dengan peserta didik sehingga siswa
termotivasi belajar yang bermanfaat bagi dirinya melalui contoh-contoh dan
kegiatan praktek yang diberikan pendidik lewat metode yang menyenangkan siswa.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan
berpijak, dan sumber motivasi agar Proses Belajar dan Pembelajaran dapat
berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik.
2. Prinsip Mengajar
Menurut Marsell, James L (1954 : 69-119) mengemukakan 6 prinsip mengajar yaitu:
a.
Prinsip konteks
b.
Prinsip fokus
c.
Prinsip urutan
d.
Prinsip evaluasi
e.
Prinsip individualisasi
f.
Prinsip sosialisasi
a.
Prinsip Konteks
Mengajar dengan memperhatikan prinsip ini, guru dalam
menyajikan pelajaran hendaknya dapat menciptakan bermacam-macam hubungan dalam
kaitan bahan pelajaran. Menghubungkan bahan pelajaran dapat menggunakan
bermacam-macam sumber, misalnya surat kabar, majalah atau buku perpustakaan
atau lingkungan sekitar.
b.
Prinsip Fokus
Mengajar dengan memperhatikan prinsip fokus, yaitu guru dalam
membahas pokok bahasan tertentu perlu menentukan pokok persoalan yang menjadi
pusat pcmbahasan. Bila prinsip konteks mengharuskan guru menghubungkan bahan
pengajaran seluas-luasnya, maka prinsip fokus mengharuskan adanya pemusatan
pokok persoalan.
c. Prinsip urutan
Mengajar dengan melaksanakan prinsip urutan adalah materi
pengajaran hendaknya disusun secara logis dan sistematis, sehingga mudah
dipelajari anak. Misalnya: guru mengajar matematika dengan pokok bahasan fungsi
grafik tentu ia akan merinci kegiatan apa yang harus dikuasai siswa, untuk
memahami dengan mudah permasalahan fungsi grafik. Untuk memahami prinsip
tersebut, guru perlu merinci kegiatan-kegiatan mana yang lebih dahulu dan mana
yang kemudian. Penyusunan kegiatan-kegiatan tersebut harus sistematis dan
logis.
d.
Prinsip evaluasi
Prinsip ini menekankan bahwa
guru dalam mengajar tidak boleh meninggalkan kegiatan evaluasi. Evaluasi
merupakan kegiatan integral dalam mengajar. Kegiatan evaluasi berfungsi
mempertinggi efektivitas belajar, menimbulkan dorongan siswa untuk lebih
meningkatkan belajarnya da.n memungkinkan guru untuk memperbaiki metode mengajarnya.
Evaluasi ini dapat dilakukan baik secara tertulis maupun lisan dalam bentuk
“assasment”.
e. Prinsip individualisasi
Melaksanakan prinsip
individualisasi diwujudkan dalam bentuk mengajar hendaknya memperhatikan
perbedaan antar individu siswa. Siswa sebagai makhluk individu berbeda-beda,
baik dari segi mental, misalnya perbedaan intelegensi, bakat, minat dan
sebagainya maupun berbeda dalam kecenderungan, misalnya ada yang cenderung
lebih baik pada bidang estetika, tetapi kurang baik pada matematika. dan
sebagainya. Perbedaan individu tersebut dapat dilakukan dalam pemberian
pelayanan belajar, seperti bimbingan belajar, tugas-tugas, dan sebagainya.
f.
Prinsip sosialisasi
Prinsip ini menekankan bahwa
guru dalam mengajar hendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang
menimbulkan sikap saling kerjasama antara siswa., dalam mengatasi masalah. Cara
belajar seperti itu memiliki dua keuntungan yang dapat diperoleh yaitu:
1) Dapat
membina dan mengembangkan kepribadian siswa terutama sikap demokrasi.
2) Pengetahuan
anak akan bertambah kokoh sebab di dalam proses belajar di antara siswa terjadi
saling memberi dan menerima.
Jadi, dapat disimpulkan keenam
prinsip harus dilaksanakan secara integral. Prinsip konteks, urutan, dan
evaluasi merupakan prinsip-prinsip yang digali dari bagaimana cara
menyusun dan menyajikan bahan kepada siswa, sedangkan prinsip individualisasi
dan sosiolisasi mendasarkan pada pemenuhan kebutuhan yang belajar.
C. Keterampilan
– Keterampilan Mengajar
Menurut
Turney (Uzer Usman, 2010:74) mengemukakan ada 8
(delapan) keterampilan mengajar/membelajarkan yang sangat berperan dan
menentukan kualitas pembelajaran, diantaranya:
1. Keterampilan
Bertanya
Dalam proses belajar mengajar, bertanya
memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik
pelontaran yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap siswa, yaitu:
a. Meningkatkan
partisipasi siswa dalam kegiatan belajar-mengajar
b. Membangkitkan
minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadai atau
dibicarakan
c. Mengembangkan
pola dan cara belajar aktif dari siswa sebab berfikir itu sendiri sesungguhnya
adalah bertanya
d. Menuntun
proses berfikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat
menentukan jawaban yang baik
e. Memusatkan
perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.
2. Keterampilan
Mempeberikan Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah
segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang
merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa,
yang bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi
si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan
juga merupakan respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan
kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
3. Keterampilan
Mengadakan Variasi
Variasi stimulus adalah suatu kegiatan
guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk
mengatasi kebosanan siswa sehingga, dalam situasi belajar mengajar, siswa senantiasa
menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi.
4. Keterampilan
Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan adalah
penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik untuk
menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya. Penyampaian
informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok
merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan.
5. Keterampilan
Membuka dan Menutup Pelajaran
Membuka pelajaran (set induction) ialah
usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar
untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat
pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek
yang positif terhadap kegiatan belajar. Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah
kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan
belajar mengajar. Usaha menutup pelajaran itu dimaksudkan untuk memberi
gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa, mengetahui
tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses
belajar-mengajar.
Komponen keterampilan membuka pelajaran
meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui
berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang
akan dipelajari dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dikuasai siswa.
Komponen keterampilan menutup pelajaran meliputi: meninjau kembali penguasaan
inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, dan
mengevaluasi.
6. Keterampilam
Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses
yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang
informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan,
atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan
siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses
yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih
bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan
kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya
keterampilan berbahasa.
Komponen-komponen keterampilan
membimbing diskusi, yaitu :
a. memusatkan
perhatian siswa pada tujuan dan topic diskusi
b. memperluas
masalah atau urutan pendapat
c. menganalisis
pandangan siswa
d. meningkatkan
urunan pikir siswa
e. menyebarkan
kesempatan berpartisipasi
f. menutup
diskusi
7. Keterampilan
Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan
guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan
mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan
kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang
optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar, misalnya penghentian tingkah
laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi
ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok
yang produktif.
Dalam melaksanakan keterampilan
mengelola kelas maka perlu diperhatikan komponen-komponen keterampilan,
antara lain:
a. Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal (bersifat preventif). Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan
guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal seperti keterampilan
menunjukkan sikap tanggap, member perhatian, memusatkan perhatian, memusatkan
perhatian kelompok, memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas, menegur dan member
penguatan.
b. Keterampilan
yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal. Keterampilan
ini berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang
berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk
mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan
gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan
respon yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepada kepala sekolah, konselor
sekolah, atau orang tua siswa.
Dalam usaha mengelola kelas secara
efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai
berikut: (1) campur tangan yang berlebihan (teachers instruction). (2).
kesenyapan (fade away) (3). ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stop
and stars) (4). penyimpangan (digression) (5). bertele-tele (overdwelling)
8. Keterampilan
Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah
berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3- 8 orang untuk kelompok kecil, dan
seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan
memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya
hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa maupun antara siswa dengan
siswa.
Komponen keterampilan yang digunakan
adalah: keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, keterampilan
mengorganisasi, keterampilan membimbing dan memudahkan belajar dan keterampilan
merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
D. Tujuan
Keterampilan Mengajar
1.
Tujuan
untuk siswa
Keterampilan mengelola kelas bagi siswa mempunyai
tujuan untuk: (a)
mendorong siswa mengembangkan
tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, serta sadar untuk
mengendalikan dirinya. (b)
membantu siswa agar mengerti
akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau
merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan. (c) menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam
tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas.
2.
Tujuan
untuk Guru
Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah
untuk melatih keterampilannya dalam : (a) mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam
memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah proses belajar mengajar
secara efektif. (b) memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan
mengembangkan kompetensinya dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada
siswa. (c) memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku
siswa yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan
menguasai seperangkat kemungkinan strategi dan yang dapat digunakan dalam
hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang berlebihan atau terus menerus
melawan di kelas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa
keterampilan mengajar merupakan perubahan tingkah laku siswa dalam agar agar
siswa dapat mengembangkan dan menerapkan pembelajaran di sekolah dalam
kehidupannya.
E. Macam-Macam
Keterampilan Mengajar
Pada garis
besarnya keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian yaitu;
1)
Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal.
a.
Menunjukan
sikap tanggap,
Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap
perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas
perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan
tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik.
b.
Membagi
perhatian,
Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah
orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang
membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru.
Perhatian guru tidak hanya terpokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu
yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merat
kepada setiap anak yang ada di dalam kelas.
c.
Memusatkan perhatian kelompok,
Munculnya kelompok informal di kelas, atau
pengelompokan karena di sengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran
membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama
ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan.
d.
Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas,
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian
seperti dijelaskan di atas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah emamparkan setiap pelaksanan
tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak
secara bertahap dan jelas.
e.
Menegur,
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara
siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut
bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali
kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan
siswa. Sifat dari teguran tidak
merupakan hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada
siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya.
f.
Memberi
penguatan,
Penguatan adalah
Upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku
yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan dan
dapat ditularkan kepada siswa lainnya.
Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersipat moril juga
yang bersifat material tapi tidak berlebihan.
2)
Keterampilan
yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
a.
Memodifikasi
tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan
bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pemebelajaran sehingga
tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang peniruan perilaku yang kurang
baik.
b.
Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas
adalah merupakan bagaian dari pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang
terapkan oleh guru. Kelompok juga bias
muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan, teman karena
gender dan lain-lain. Untuk kelancaran
pembelajaran dan pencapaiant ujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas
itu harus di kelola dengan baik oleh guru.
c.
Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang
menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu
ada) dan nurturan effect, oleh karena itu permasalahan akan muncul didalam
kelas kaitannya dengan interaksi dan akan diikuti oleh damapak pengiring yang
besar bila tidak bias diselesaikan. Guru
harus dapat mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya
mengambil langkah penyelesaian sehingga ada solusi untuk masalah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Christopher
Klooper And Steve Drew. 2015. Teaching
For Learning And Learning
For Teaching.
Australia : Griffith University.
Gagne,
Robert M. 1973. The Conditions of
Learning and Theory of Instruction. New York: Holt Rinehart and Winston Inc.
Sequeira,
A. H. 2012. Introduction to Concepts of
Teaching and Learning. India: National Institute of Technology
Karnataka.N
Usman,
M.Uzer. 2010. Menjadi Guru
Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.