TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
Tentang
Pendekatan dalam Manajemen Kelas
Oleh
:
Bestary
Nabilla
1520105
Dosen Pengampu :
Yessi Rifmasari, M.Pd
Kelas : VII.4 PGSD
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2019
A.
Pengertian
Pendekatan dalam Manajemen Kelas
Pedekatan berasal dari kata dekat yang berarti pendek, tidak jauh,
hampir, akrab dan menjelang. Sementara pendekatan menurut bahasa dapat
diartikan sebagai proses atau cara perbuatan mendekati. Namun, secara istilah
pendekatan bersifat aksiomatis (yang sudah jelas kebenarannya), menyatakan
suatu pendirian, filsafat, keyakinan atau merupakan sebuah bahan pokok. Jadi,
pendekatan manajemen kelas dapat diartikan sebagai cara pandang seorang guru
dalam menetukan kegiatan mengelola kelas.
Kemampuan guru dalam mengelola kelas
termasuk salah satu dari perwujudan kompetensi pedagogik (metode guru
mengajar). Kemampuan pertama yang harus dikuasai oleh guru untuk mengelola
kelas merupakan kemampuan dalam memahami, memilih, dan menggunakan berbagai
pendekatan yang harus ditentukan dalam manajemen kelas, sehingga menjadikan
kelas menyenangkan.
B.
Sikap
Guru dalam Manajemen Kelas
Menurut
Djamarah (2006 : 185) hendaknya guru harus bersikap :
1. Hangat
dan antusias, guru yang hangat dan akrab pada siswa akan menunjukkan antusias
pada tugasnya
2. Menggunakan
kata kata, tindakan, cara kerja dan
bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan kegairahan siswa untuk belajar
3. Bervariasi
dalam penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru dan siswa
4. Guru
luwes untuk mengubah strategi mengajarnya
5. Guru
harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian
pada hal-hal yang negatif
6.
Guru harus disiplin dalam segala hal
C.
Peran
Guru dalam Manajemen Kelas
Menurut Padmono
(2011, 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan
terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga
murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi
pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat
terlihat, adapun peran guru dalam manajemen kelas
agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1.
Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas
yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif.
Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi
kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan,
penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas
secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi
siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai
pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan
sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru
sedang murid hanya pasif menerima.
a.
Kelas terbuka
Kelas dapat
terdiri dari siswa dengan berbagai tingkat kelas berbeda. Pelaksanaan model ini
dapat dilaksanakan di Indonesia, jika jadwal pelajaran kelas 1 sampai kelas 6
sama atau diterapkan di kelas tinggi saja. Misalnya: pada waktu jam pelajaran
Bahasa Indonesia, maka seluruh guru mengajar pelajaran tersebut, sedang siswa
masuk ke kelas di mana siswa menguasai tingkatan yang dicapai. Dengan demikian
ada siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas III, tetapi pada
waktu Matematika masuk kelas IV, dan mungkin pada pelajaran IPS ke kelas V.
Konsep ini mengikuti perkembangan masing-masing individu.
b.
Kelas dua
tingkat
Konsep ini
dilaksanakan dengan cara seorang guru menghadapi kelompok siswa yang berbeda
kelas tetapi berdekatan, misalnya: kelas I dan II, II dan III, III dan IV, dan
seterusnya.
c.
Kelas awal
Pembelajaran
dengan pendekatan integral atau terpadu dengan kehidupan anak pada tahap
pelaksanaannya menerpadukan berbagai konsep, topic, bahan pelajaran dengan
mengurangi sedikit mungkin pemisahan-pemisahan secara artificial, bila
dimungkinkan guru tidak melabel bahan kajian dalam mata pelajaran-mata
pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi satu model pembelajaran yang utuh
sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian menjadi alami.
2.
Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas
sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah
diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk
dapat berbentuk :
a.
Seating chart
Penempatan murid
dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat
diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru,
sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat
duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau
sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk
secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan
gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok mempu
menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di kelasnya, sehingga sikap
menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan pandangan mereka sendiri.
b.
Melingkar
Model duduk
seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga
ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
c.
Tapal kuda
Model ini sesuai
untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi
yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian dibanding
keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.
3.
Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat
pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut
kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen.
Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus,
misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen
atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah,
misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a)
alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat
lukis; jangka, meter, segitiga, buku. Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu
disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila
sewaktu-waktu digunakan akan cepat.
4.
Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Guru memiliki
peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas
yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu: (a) menata
ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya,
menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan alat
pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior yang harmonis
akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik (Immersion).
Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan mengalami pembelajaran
secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna, (b) penataan meja guru,
gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid an
indah.
5.
Cahaya, Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas harus
cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan
nyaman tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang
tetapi jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru
bergema, akibatnya anak kurang mampu memusatkan perhatian pendengarannya pada
suara guru, sebab terganggu oleh gema suara. Untuk itu disamping membuka
jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga berfungsi sebagai sarana
untuk mengurangi gema. Warna disamping memiliki arti juga membawa kesan
terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah atau kelas berpengaruh terhadap
siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan guru apalagi murid, sehingga
kadang guru sendiri tidak betah tinggal di kelasnya.ARY OF KG MEDIA. ALL RIGHTS RESERV
D.
Macam-Macam
Pendekatan dalam Manajemen Kelas
1. Pendekatan
Otoriter
Pendekatan otoriter memandang bahwa
manajerial kelas sebagai suatu pendekatan pengendalian perilaku peserta didik
oleh guru. Pendekatan ini menempatkan guru dalam peranan menciptakan dan memelihara
ketertiban di kelas dengan menggunakan strategi pengendalian. Tujuan guru yang
utama ialah mengendalikan perilaku peserta didik. Guru bertanggung jawab
mengendalikan perilaku peserta didik karena gurulah yang paling mengetahui dan
berurusan dengan peserta didik. Tugas ini sering dilakukan guru dengan
menciptakan dan menjalankan peraturan dan hukuman.
2. Pendekatan
Intimidasi
Pendekatan intimidasi adalah pendekatan
yang memandang manajemen kelas sebagai proses pengendalian perilaku peserta
didik. Berbeda dengan pendekatan otoriter yang menekankan perilaku guru yang
manusiawi, pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku guru yang
mengintimidasi. Bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang kasar,
ejekan, hinaan, paksaan, ancaman, menyalahkan. Peranan guru adalah memaksa
peserta didik berperilaku sesuai dengan perintah guru.
Pendekatan intimidasi berguna dalam
situasi tertentu dengan menggunakan teguran keras. Teguran keras adalah
perintah verbal yang keras yang diberikan pada situasi tertentu dengan maksud
untuk segera menghentikan perilaku siswa yang penyimpangannya berat. Misal,
guru memergoki dua peserta didik berkelahi.kemudian guru bertindak “berhenti”
dengan harapan setelah mendengar suara guru kedua peserta didik itu akan
berhenti berkelahi. Kehadiran guru membuat mereka takut, takut karena mereka
membayangkan akan memperoleh hukuman yang sangat berat. Dengan demikian,
pendekatan intimidasi hanya baik untuk menghentikan perbuatan yang salah berat
dengan segera.
3. Pendekatan
Permisif
Pendekatan permisif adalah pendekatan
yang menekankan perlunya memaksimalkan kebebasan siswa. Tema sentral dari
pendekatan ini adalah: apa, kapan, dan dimana juga guru hendaknya membiarkan
peserta didik bertindak bebas sesuai dengan yang diinginkannya. Peranan guru adalah
meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab dengan itu akan membantu
pertumbuhannya secara wajar. Campur tangan guru hendaknya seminimal mungkin,
dan berperan sebagai pendorong mengembangkan potensi peserta didik secara
penuh.
4. Pendekatan
Buku Masak
Pendekatan buku masak adalah pendekatan
berbentuk rekomendasi berisi daftar hal-hal yang harus dilakukan atau yang
tidak harus dilakukan oleh seorang guru apabila menghadapi berbagai tipe
masalah manajemen kelas.
Pendekatan ini cenderung menumbuhkan
sikap reaktif pada diri guru dalam memanajemeni kelas. Dengan kata lain, guru
biasanya memberikan reaksi terhadap masalah tertentu dan sering mempergunakan
dalam jangka pendek. Kelemahan lain pendekatan buku masak adalah apabila resep
tertentu gagal mencapai tujuan, guru tidak dapat memilih alternatif lain,
karena pendekatan ini bersifat mutlak. Guru yang bekerja dengan kerangka acuan
buku masak akan merugikan diri sendiri dan tidak mungkin menjadi manajer kelas
yang efektif.
5. Pendekatan
Instruksional
Pendekatan instruksional adalah
pendekatan yang mendasarkan kepada pendirian bahwa pengajaran yang dirancang
dan dilaksanakan dengan cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar masalah
manajerial kelas. Pendekatan ini berpendapat bahwa manajerial yang efektif
adalah hasil perencanaan pengajaran yang bermutu. Dengan demikian peranan guru
adalah merencanakan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik.
6. Pendekatan
Pengubahan Perilaku
Pendekatan pengubahan perilaku
didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi behaviorisme. Prinsip utama yang
mendasari pendekatan ini adalah perilaku merupakan hasil proses belajar.
Prinsip ini berlaku baik bagi perilaku yang sesuai maupun perilaku yang menyimpang.
Pendekatan pengubahan perilaku dibangun
atas dasar dua asumsi utama yaitu: 1) empat proses dasar belajar, 2) pengaruh
kejadian-kejadian dalam lingkungan. Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan
empat prinsip dasar belajar.
7. Pendekatan
Iklim Sosio-Emosional
Pendekatan iklim sosio-emosional dalam
manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan klinikal, dan karena itu
memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar pribadi. Pendekatan ini
dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif (dan pengajaran
yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang positif antara guru dan
peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antar dan iklim kelas.
Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan
antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim sosio-emosional yang positif
pula.
8. Pendekatan
Proses Kelompok
Premis utama yang mendasari
pendekatan proses kelompok didasarkan pada asumsi-asumsi barikut:
1)
kehidupan sekolah berlangsung dalam
lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas,
2)
tugas pokok guru adalah memnciptakan dan
membina kelompok kelas yang efektif dan produktif,
3)
kelompok kelas adalah suatu system
social yang mengandung cirri-ciri yang terdapat pada semua system social,
4)
pengelolaan kelas oleh guru adalah
menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana
belajar yang menguntungkan.
9. Pendekatan
Eklektik
Menyimak secara seksama kedelapan
pendekatan yang telah diuraikan di muka adalah ibarat melihat benda yang sama
dari berbagai sudut pandangan yang berbeda. Oleh karena itu, seorang guru
harus mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pendekatan ketika akan
menerapkan satu pendekatan. Dalam kenyataan guru jarang sekali menerapkan satu
pendekatan secara utuh, melainkan mengkombinasikan masing-masing pendekatan
dengan mengambil hal-hal yang positif dari satu pendekatan seraya mengeliminir
kelemahan masing-masing pendekatan.
10. Pendekatan
Analitik Pluralistik
Pendekatan analitik pluralistik memberi
kesempatan kepada guru memilih strategi manajemen kelas atau gabungan beberapa
strategi dari berbagai pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi
terbesar berhasil menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang
telah dianalisis. Guru yang bijaksana menghargai pendekatan dan strategi
manajemen kelas yang mempunyai konsep yang baik. Dengan demikian, pendekatan
analitik pluralistik memperluas jangkauan pendekatan.
Terdapat empat tahap pendekatan analitik
pluralistik yang perlu dicermati dalam penggunaannya :
a. Menentukan
kondisi kelas yang diinginkan
b. Menganalisis
kondisi kelas yang nyata
c. Memilih
dan menggunakan strategi pengelolaan
d. Menilai
efektivitas pengelolaan
DAFTAR RUJUKAN
Abdurrahman. (1994). Pengelolaan
Pengajaran. Ujung Pandang: Bintang Selatan.
Arikunto, S. (1989). Managemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri
dan Zain, Aswan. 2010. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Karwati, Euis,dkk.
2014. Manajemen Kelas (Classroom
Management). Bandung : Alfabeta.
Wiyani, Novan Ardy.
2013. Manajemen Kelas.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Bgus
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusMaterinya sangat membantu kak
BalasHapusMateri nya bagus kak
BalasHapusBermanfaat sekali kak
BalasHapusSangat bermanfaat👍
BalasHapusBagus sekali kak👍👍
BalasHapusMaterinya bagus sekali
BalasHapusMaterinya bagus, sangat membantu🙏
BalasHapusSangat bermanfaat bagi saya pribadi kak, dan semoga pembaca lainnya dapat menerapkan pembahasan dari blog ini🙏
BalasHapusSangat bermanfaat kak.. 😊👍
BalasHapusMembantu banget materi nya
BalasHapusSangat membantu sekali
BalasHapusTrimakasih,, sangat mmbantu
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusSngat brnfaat
BalasHapusTerimakasih sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih infonya kk. Sangat membantu
BalasHapusSangat bermanfaat, terima kasih
BalasHapussangat bermanfaat kak.. semoga bisa diterapkan
BalasHapusApabila guru Salah menempatkan siswa dalam pengaturan tempat duduk,apa yang harus dilakukan selanjutnya?
BalasHapusSangat bagus sekali
BalasHapusSangat membantu kak
BalasHapus